Tugas 1_Etika Bisnis

Nama : Septi Ratna Sari
NPM  : 1A214144
Kelas  : 3EA05
Tugas  : Etika Bisnis


Prinsip-prinsip Etika Bisnis :
1.      Prinsip Otonomi
Otonomi adalah sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya sendiri tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan. Orang bisnis yag otonom orang yang sadar sepenuhnya akan apa yang menjadi kewajibannya dalam dunia bisnis. Ia tahu mengenai bidang kegiatannya, situasi yang dihadapinya, apa yang diharapkan darinya, tuntutan dan aturan yang berlaku bagi bidang kegiatannya, sadar dan tahu akan keputusan dan tindakan yang akan diambilnya serta risiko atau akibat yang akan timbul baik bagi dirinya dan perusahaan maupun bagi pihak lain. Ia juga tahu bahwa keputusan dan tindakan yang akan diambilnya akan sesuai atau sebaliknya, bertentangan dengan nilai dan norma moral tertentu. Kalau seandainya bertentangan, dia sadar dan tahu mengapa keputusan dan tindakan itu tetap diambilnya kendati bertentangan dengan nilai dan norma moral tertentu. Karena itu, orang yang otonom bukanlah orang yang sekadar mengikuti begitu saja norma dan nilai moral yang ada, melainkan adalah orang yang melakukan sesuatu karena tahu dan sadar bahwa hal itu baik.
            Untuk bertindak secara otonom, diandaikan ada kebebasan untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan keputusan yang menurutnya terbaik itu. Kebebasan adalah undur hakiki dari prinsip otonomi ini. Dalam etika, kebebasan adalah prasyarat utama untuk bertindak secara etis. Hanya karena seseorang mempunyai kebebasan, ia bisa dituntut untuk bertindak secara etis.
            Hal yang sama berlaku dalam bidang bisnis. Seorang pelaku bisnis hanya mungkin bertindak secara etis kalau dia diberi kebebasan dan kewenangan penuh untuk mengambil keputusan dan bertindak sesuai dengan apa yang dianggapnya baik. Tanpa kebebasan pelaku bisnis hanya akan menjadi robot yang hanya bisa tunduk pada tuntutan, perintah dan kendali dari luar dirinya. Hanya dengan kebebasan ia dapat menentukan pilihannya secara tepat dan mengembangkan bisnisnya secara baik sesuai dengan apa yang diinginkannya. Karena itu, tanpa kebebasan seorang manajer tidak bisa menjadi manajer yang baik secara etis, melainkan sebaliknya hanya mengikuti perintah dan kemauan pihak lain di luar dirinya. Demikian pula, hanya kalau pengusaha dijamin kebebasannya untuk berbisnis tanpa campur tangan atau paksaan dari pemerintah yang distorsif dan tidak etis, mereka dapat melakukan bisnisnya secara etis. Tanpa itu, nilai dan norma etika akan dengan mudah diabaikan hanya demi tunduk secara paksa terhadap pihak luar tadi.
            Namun, kebebasan saja belum menjamin bahwa seseorang bertindak secara otonom dan etis. Karena dengan kebebasannya seseorang dapat bertindak secara membabi buta tanpa menyadari apakah tindakannya itu baik atau tidak. Dengan kebebasan seseorang dapat bertindak sesuka hatinya, dan karena itu malah bertindak secara tidak etis. Karena itu, otonomi juga mengandaikan adanya tanggung jawab. Ini unsur lain lagi yang sangat penting dari prinsip otonomi. Orang yang otonom adalah orang yang tidak saja sadar akan kewajibannya dan bebas mengambil keputusan dan tindakan berdasarkan apa yang dianggapnya baik, melainkan juga adalah orang yang bersedia mempertanggung jawabkan keputusan dan tindakannya serta dampak dari menjalankan tindakannya bisa dituntut untuk bertanggung jawab atas tindakannya. Jadi, orang yang otonom adalah orang yang tahu akan tindakannya, bebas dalam melakukan tindakannya, tetapi sekaligus juga bertanggung jawab atas tindakannya. Ini unsur-unsur yang tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya.
            Kesediaan bertanggung jawab ini oleh Magnis-Suseno disebut sebagai kesediaan untuk mengambil titik pangkal moral. Artinya,dengan sikap dan kesediaan untuk bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan keputusan dan tindakan yang diambil bisa dimungkinkan proses pertimbangan moral. Bahkan, menurut Magnis, prinsip moral kalau mereka sudah tidak punya sikap dan kesediaan untuk bertanggung jawab. Tanpa kesediaan untuk bertanggung jawab, prinsip etika lainnya menjadi tidak relevan.
            Di pihak lain, dapat dikatakan bahwa hanya orang yang menganggap serius nilai dan prinsip moral lainnya yang bisa bertanggung jawab atas tindakannya. Hanya orang yang jujur yang mau bertanggung jawab. Hanya orang yang menganggap serius nilai dan prinsip keadilan yang mau bertanggung jawab atas tindakannya yang tidak adil. Hanya orang yang menghargai nyawa dan martabat manusia yang mau bertanggung jawab atas tindakannya yang melanggar hak asasi manusia. Dengan kata lain, kesediaan bertanggung jawab tidak hanya merupakan titik pangkal moral, melainkan juga adalah konsekuensi dari sikap moral. Atau, dirumuskan secara lain, kesediaan bertanggung jawab merupakan ciri khas dari makhluk bermoral. Orang yang bermoral adalah orang yang selalu bersedia untuk bertanggung jawab atas tindakannya.
2.    Prinsip Kejujuran
Kejujuran relevan dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak. Dalam mengikat perjanjian dan kontrak tertentu, semua pihak (pelaku bisnis dalam hal ini) secara a priori saling percaya satu sama lain, bahwa masing-masing pihak tulus dan jujur melaksanakan janjinya. Kejujuran ini sangat penting artinya bagi kepentingan masing-masing pihak selanjutnya. Karena, seandainya salah satu pihak berlaku curang dalam memenuhi syarat-syarat perjanjian tersebut, selanjutnya tidak mungkin lagi pihak yang dicurangi itu mau menjalin relasi bisnis dengan pihak yang curang tadi.
            Kejujuran juga relevan dalam penawaran barang dan jasa dengan mutu dan harga yang sebanding. Kepercayaan konsumen adalah hal yang paling pokok, maka sekali pengusaha menipu konsumen, entah melalui iklan, entah melalui pelayanan yang tidak sebagaimana digembar-gemborkan, konsumen akan dengan mudah lari ke produk lain.
            Kejujuran juga relevan dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan. Perusahaan akan hancur kalau suasana kerja penuh dengan akal-akalan dan tipu-menipu. Namun yang menarik, kejujuran dalam perusahaan hanya mungkin terjaga kalau ada etos bisnis yang baik dalam perusahaan itu, kalau ada standar-standar moral yang jelas, kalau karyawan diperlakukan secara baik dan manusiawi, kalau karyawan diperlakukan sebagai manusia yang punya hak-hak tertentu, kalau sudah terbina sikap saling menghargai sebagai manusia antara satu dan yang lainnya.

3.   Prinsip Keadilan
Prinsip keadilan menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai dengan kriteria yang rasional objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Prinsip keadilan menuntut agar setiap orang dalam kegiatan bisnis entah dalam relasi eksternal perusahaan maupun relasi internal perusahaan perlu diperlakukan sesuai dengan haknya masing-masing.

     4. Prinsip Saling Menguntungkan (mutual benefiit principle)
Prinsip ini menuntut agar bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak. Prinsip ini mengakomodasi hakikat dan tujuan bisnis. Karena anda ingin untung dan saya pun ingin untung, maka sebaiknya kita menjalankan bisnis dengan saling menguntungkan. Karena sebagai produsen anada ingin untung dan sebagai konsumen saya ingin mendapat barang dan jasa yang memuaskan (menguntungkan dalam bentuk harga dan kualitas yang baik), maka sebaiknya bisnis dijalankan dengan saling menguntungkan produsen dan konsumen.

     5. Prinsip Integritas Moral

Prinsip ini terutama dihayati sebagai tuntutan internal dalam diri pelaku bisnis atau perusahaan agar dia perlu menjalankan bisnis dengan tetap menjaga nama baiknya atau nama baik perusahaannya. Ada sebuah imperatif moral yang berlaku bagi dirinya sendiri dan perusahaannya untuk berbisnis sedemikian rupa agar tetap dipercaya, tetap paling unggul, tetap yang terbaik. Prinsip ini merupakan tuntutan dan dorongan dari dalam diri pelaku dan perusahaan untuk menjadi yang terbaik dan dibanggakan. Dan itu tercermin dalam seluruh perilaku bisnisnya dengan siapa saja, baik ke luar maupun ke dalam perusahaan.

Daftar Pustaka :
https://books.google.co.id/books?id=5QzuFOFAxbUC&pg=PA73&dq=prinsip+etika+bisnis&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjt6KCZwcTSAhWKv7wKHQ8vD-YQ6AEIGTAA#v=onepage&q=prinsip%20etika%20bisnis&f=false

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehidupan Kampung Naga Yang Masih Dikelilingi Oleh Tradisi Kebudayaan

Tulisan 2_Etika Bisnis

Tulisan Komunikasi Bisnis (Meresensi Novel "Tentang Kamu" Karya Tere Liye)